
Annual Report 2024
Annual Report 2024
Strategic Growth through Sustainable Expansion
The Company’s core strategy in responding to various industry challenges is to reinforce its commitment to sustainability, enhance operational efficiency, optimize mining performance to ensure a reliable supply of nickel ore for downstream industries within its value chain, and continue strengthening value chain integration on Obi Island through the sustainable expansion of nickel downstreaming.
The Company remains committed to making prudent investments, both to increase production capacity and to develop higher value-added nickel products, while maintaining sound financial performance to support long-term strategic growth.
Tinjauan keuangan ini dibuat berdasarkan informasi dari Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan dan Entitas Anaknya tanggal 31 Desember 2024 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja dengan opini telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian Perseroan tanggal 31 Desember 2024, serta kinerja keuangan dan arus kas konsolidasiannya untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Pemahaman atas uraian tinjauan keuangan ini tetap memperhatikan penjelasan pada catatan Laporan Keuangan Konsolidasian sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Tahunan ini.
Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian
ASET
Jumlah aset Perseroan pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp52.254 miliar, naik 15,4% dari Rp45.289 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah aset disebabkan oleh kenaikan aset lancar dan aset tidak lancar, masing-masing sebesar 14,5% dan 15,7%.
Komposisi Jumlah Aset, 2023-2024
Aset Lancar
Aset lancar sebesar Rp13.465 miliar, naik 14,5% dari Rp11.759 miliar pada tahun 2023. Kenaikan aset lancar terutama berasal dari kas dan bank yang naik sebesar 64,9% dari Rp3.935 miliar menjadi Rp6.486 miliar karena kenaikan penerimaan dari pelanggan.
Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar sebesar Rp38.789 miliar, naik 15,7% dari Rp33.530 miliar pada tahun 2023. Kenaikan aset tidak lancar terutama berasal dari investasi pada Entitas Asosiasi.
LIABILITAS
Jumlah liabilitas Perseroan per 31 Desember 2024 sebesar Rp15.800 miliar, turun 6,5% dari Rp16.897 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan jumlah liabilitas terutama disebabkan oleh penurunan liabilitas jangka pendek sebesar 37,1%. Di sisi lain liabilitas jangka panjang mengalami kenaikan sebesar 31,0%.
Komposisi Jumlah Liabilitas, 2023-2024
Liabilitas Jangka Pendek
Liabilitas jangka pendek sebesar Rp5.854 miliar, turun 37,1% dari Rp9.306 miliar pada tahun 2023. Penurunan liabilitas jangka pendek terutama disebabkan oleh:
-
Utang usaha turun 33,4% dari Rp1.871 miliar menjadi Rp1.246 miliar.
-
Utang lain-lain turun 36,5% dari Rp3.606 miliar menjadi Rp2.289 miliar.
-
Pelunasan utang bank jangka pendek pada tahun 2024.
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas jangka panjang sebesar Rp9.946 miliar, naik 31,0% dari Rp7.591 miliar pada tahun 2023. Kenaikan liabilitas jangka panjang terutama karena kenaikan utang bank jangka panjang sebesar 35,2% dari Rp6.751 miliar menjadi Rp9.130 miliar.
EKUITAS
Jumlah ekuitas Perseroan per 31 Desember 2024 sebesar Rp36.454 miliar, naik 28,4% dibandingkan Rp28.392 miliar pada periode yang sama tahun 2023. Kenaikan ekuitas terutama karena tambahan saldo laba sebesar Rp6.380 miliar dan penghasilan komprehensif lain sebesar Rp753 miliar
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian
Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan
Perseroan membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp26.965 miliar, tumbuh 13,0% dibandingkan Rp23.858 miliar pada tahun 2023.
Pendapatan tersebut berasal dari segmen usaha pengolahan nikel sebesar Rp23.164 miliar, meningkat 11,6% dari Rp20.765 miliar dan segmen usaha penambangan nikel sebesar Rp3.801 miliar, naik 22,9% dari Rp3.093 miliar pada tahun 2023.
Beban Pokok Penjualan
Beban pokok penjualan sebesar Rp18.518 miliar, naik 18,8% dari Rp15.582 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan beban pokok penjualan sejalan dengan kenaikan biaya produksi langsung sebesar 9,6% dari Rp12.672 miliar menjadi Rp13.892 miliar, dan biaya produksi tidak langsung sebesar 47,0% dari Rp2.313 miliar menjadi Rp3.400 miliar. Kenaikan biaya produksi langsung terutama terjadi pada biaya-biaya bahan bakar, bahan baku dan tenaga kerja langsung. Sedangkan kenaikan biaya produksi tidak langsung terutama terjadi pada penyusutan aset tetap, perlengkapan, serta perbaikan dan pemeliharaan.
Laba Bruto
Perseroan membukukan laba bruto sebesar Rp8.447 miliar, tumbuh 2,1% dibandingkan Rp8.276 miliar pada tahun 2023. Margin laba bruto turun dari 34,7% menjadi 31,3% sejalan dengan penurunan indeks harga nikel global.
Beban Usaha dan Laba Usaha
Beban usaha naik 2,3% dari Rp1.252 miliar menjadi Rp1.281 miliar terutama karena kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 10,7% dari Rp1.368 miliar menjadi Rp1.514 miliar. Perseroan mencatat laba usaha sebesar Rp7.166 miliar, naik 2,0% dari Rp7.024 miliar pada tahun sebelumnya.
Bagian atas Laba Entitas Asosiasi
Perseroan memperoleh bagian atas laba Entitas Asosiasi Perseroan memperoleh bagian atas laba Entitas Asosiasi sebesar Rp2.013 miliar, naik 27,5% dari Rp1.578 miliar pada tahun 2023.
Laba Tahun Berjalan
Perseroan menghasilkan laba tahun berjalan sebesar Rp7.712 miliar, naik 9,1% dari Rp7.068 miliar pada tahun 2023.
Jumlah Penghasilan Komprehensif Tahun Berjalan
Perseroan mencatat penghasilan komprehensif lain tahun berjalan sebesar Rp2.539 miliar, terutama berasal dari perubahan nilai aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sebesar Rp1.513 miliar, selisih kurs dari penjabaran laporan keuangan sebesar Rp470 miliar, dan bagian penghasilan komprehensif lain dari Entitas Asosiasi selisih kurs dari penjabaran laporan keuangan, sebesar Rp539 miliar. Dengan demikian, jumlah penghasilan komprehensif tahun berjalan tercatat sebesar Rp10.251 miliar, naik 51,7% dari Rp6.759 miliar pada tahun 2023.
Laporan Arus Kas Konsolidasian
Posisi kas dan bank Perseroan pada akhir tahun 2024 sebesar Rp6.486 miliar, naik 64,9% dibandingkan posisi akhir tahun 2023 sebesar Rp3.935 miliar.
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Pada tahun 2024, kas yang diperoleh dari aktivitas operasi terdiri dari penerimaan dari pelanggan sebesar Rp26.082 miliar (2023: Rp21.886 miliar). Selain itu, terdapat penerimaan dari pendapatan bunga, penghasilan lainnya, dan taksiran tagihan pajak yang secara total sebesar Rp451 miliar (2023: Rp232 miliar).
Sedangkan kas yang digunakan untuk aktivitas operasi yang terdiri dari pembayaran kepada pemasok sebesar Rp15.508 miliar (2023: Rp10.682 miliar), pembayaran kepada karyawan sebesar Rp2.665 miliar (2023: Rp2.282 miliar), pembayaran beban lainnya sebesar Rp668 miliar (2023: Rp586 miliar), royalti kepada pemerintah sebesar Rp842 miliar (2023: Rp733 miliar), dan pembayaran pajak penghasilan sebesar Rp1.142 miliar (2023: Rp1.050 miliar).
Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi pada akhir tahun 2024 sebesar Rp5.708 miliar (2023: Rp6.785 miliar).
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Kas yang diperoleh dari aktivitas investasi terdiri dari penerimaan dividen dari Entitas Asosiasi sebesar Rp1.438 miliar (2023: nihil), pengurangan setoran uang muka atas investasi pada Entitas Asosiasi sebesar Rp83 miliar (2023: nihil), hasil penjualan aset tetap sebesar Rp2 miliar (2023: Rp1 miliar) dan akuisisi Entitas Anak, setelah dikurangi kas yang diterima, sebesar Rp2 miliar (2023: Rp6 miliar). Pada tahun 2024 tidak ada penerimaan piutang kepada pihak berelasi (2023: Rp22 miliar) dan penerimaan dari penjualan aset tetap melalui piutang (2023: Rp32 miliar).
Sedangkan kas yang digunakan untuk aktivitas investasi terdiri dari penambahan investasi pada Entitas Asosiasi sebesar Rp2.311 miliar (2023: Rp1.910 miliar), pembayaran utang terkait perolehan aset tetap sebesar Rp657 miliar (2023: Rp1.816 miliar), perolehan aset tetap dan uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp520 miliar (2023: Rp2.565 miliar), penambahan investasi pada saham sebesar Rp179 miliar (2023: Rp340 miliar), penambahan properti pertambangan sebesar Rp107 miliar (2023: Rp4 miliar), dan penambahan aset eksplorasi dan evaluasi sebesar Rp22 miliar (2023: Rp6 miliar).
Kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi pada akhir tahun 2024 sebesar Rp2.271 miliar (2023: Rp6.676 miliar).
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Kas dari aktivitas pendanaan terdiri dari utang bank jangka panjang dan jangka pendek sebesar Rp12.708 miliar (2023: Rp2.672 miliar) dan kas yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp848 miliar (2023: nihil). Pada tahun 2023 terdapat penerimaan dari penerbitan saham baru sebesar Rp9.997 miliar (2024: nihil).
Sedangkan kas yang digunakan untuk aktivitas pendanaan terdiri dari pembayaran: utang bank jangka panjang dan jangka pendek sebesar Rp10.845 miliar (2023: Rp2.387 miliar), dividen kas sebesar Rp1.686 miliar (2023: Rp1.400 miliar), biaya keuangan sebesar Rp932 miliar (2023: Rp512 miliar), utang kepada pihak ketiga sebesar Rp665 miliar (2023: nihil), dividen kas oleh Entitas Anak sebesar Rp504 miliar (2023: Rp844 miliar) dan liabilitas sewa dengan pihak ketiga sebesar Rp12 miliar (2023: Rp11 miliar). Pada tahun 2024, tidak ada aktivitas pendanaan berupa pembayaran utang dividen, utang lain-lain jangka panjang (pihak ketiga), utang kepada pihak berelasi, kas yang dibatasi penggunaannya, biaya emisi efek, dan pembelian kepemilikan saham dari pihak nonpengendali yang pada tahun 2023 secara total berjumlah Rp4,9 miliar.
Kas neto yang digunakan untuk aktivitas pendanaan pada tahun 2024 sebesar Rp1.087 miliar, dimana kas neto yang diperoleh untuk aktivitas pendanaan pada 2023 sebesar Rp2.594 miliar
STRATEGICALLY GREEN: A ROADMAP TO RESPONSIBLE MINING
As part of its commitment to integrating sustainability principles into every aspect of its operations, the Company continues to drive transformation toward more responsible mining practices. This approach not only reflects compliance with regulations and international standards but also serves as a tangible expression of our long-term vision to create sustainable value for all stakeholders. In 2024, The Company recorded significant progress in our commitment to responsible mining by laying a solid foundation for long-term sustainability, which summarized as follows:



The Company is an integrated nickel producer with operations encompassing laterite nickel ore mining and downstream processing using both Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) and High Pressure Acid Leaching (HPAL) technologies. All activities are centralized on Obi Island, allowing for significant logistical efficiency.
Mining Activities
Mining operations are conducted using the open-cast method, producing high-grade saprolite ore and lower-grade limonite ore. According to JORC-compliant data, the Company’s total estimated reserves and resources amount to 309.7 million wet metric tons (wmt) across four active concessions.
In 2024, nickel ore sales volume reached 23.75 million wmt, a 54.5% increase from the previous year. Saprolite sales totaled 9.16 million wmt, up by 45.5%, while limonite sales amounted to 14.59 million wmt, marking a 60.7% increase. This growth was driven by rising demand for feedstock from both RKEF smelters and HPAL facilities.
Processing Activities

The Company operates two RKEF smelters:
-
PT MSP: 4 production lines, with an annual capacity of 25,000 tons of contained nickel in ferronickel (FeNi)
-
PT HJF: 8 production lines, with an annual capacity of 95,000 tons of contained nickel in FeNi
The combined installed capacity of these facilities stands at 120,000 tons per year. In 2024, FeNi sales volume reached 126,344 tons, representing a 25.2% increase and exceeding installed capacity.
For limonite processing, the Company operates HPAL facilities through:
-
PT HPL: 3 production lines, with a capacity of 55,000 tons of nickel-cobalt metal per year
-
PT ONC: 3 production lines, with a capacity of 65,000 tons of nickel-cobalt metal per year
The total collective capacity is 120,000 tons, including 14,250 tons of cobalt metal. In 2024, HPAL product sales (including MHP and NiSO₄) reached 102,054 tons, a 67.7% increase from the previous year.
Project Development Progress
Development of a third mining operation under PT GTS commenced in the second half of 2024, with production expected to begin in January 2025. Additionally, construction of a new smelter under PT KPS, with a planned capacity of 60,000 tons of FeNi per year, reached 94.3% completion and is targeted to commence operations in Q1 2025.
The Company also increased its ownership in PT ONC, whose second HPAL facility has been fully operational since August 2024.
Segment Profitability
The Company manages two core business segments: nickel mining and processing. The close proximity between the mining sites and processing facilities on Obi Island supports cost efficiency and competitive cash cost control. Despite global nickel price pressures, the Company has maintained profitability through operational optimization and the implementation of sound mining practices.

External Conditions Overview
The January 2024 edition of the Global Economic Prospects (GEP) report by the World Bank projected a slowdown in global economic growth, from 2.9% in 2023 to 2.4% in 2024. This moderation is attributed to tighter monetary policies, ongoing geopolitical tensions, and rising trade protectionism.
The United States economy grew by 2.8% in 2024, slightly down from 2.9% in 2023 but outperforming the earlier forecast of 2.0%. Fears of a recession did not fully materialize, as the economy experienced a soft landing.
In contrast, China’s economic growth declined from 5.4% to 5.0%, driven by weakening exports due to global conditions and several domestic challenges such as the ongoing property crisis, underperformance in the infrastructure sector, and high youth unemployment. The property crisis, which began in 2021, persisted into 2024, with several major developers facing liquidation risks. Large-scale infrastructure projects also continued to face delays.
Overall, despite being lower than the previous year, global economic growth in 2024 reached 2.6%, slightly better than the initial projection of 2.4%.
Industry Overview
Historically, the stainless steel industry accounts for about 70% of global nickel consumption, thanks to stainless steel’s high corrosion resistance, which makes it essential across sectors such as construction, automotive, home appliances, and medical equipment. Stainless steel production primarily uses ferronickel (FeNi), processed from saprolite nickel ore via the Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) method.
China remains the world’s largest producer of stainless steel, holding approximately 60% of the global market share, followed by Europe (12%), Indonesia (10%), India (8%), and the United States (4%). Global production in 2024 is estimated at 54–55 million tons, up from 53 million tons in 2023.
Since 2005, China has developed nickel pig iron (NPI) as a lower-cost alternative to FeNi, although it contains only 10–12% nickel. However, the prolonged property crisis and sluggish infrastructure development have slowed demand for stainless steel in China, which in turn has reduced demand for FeNi and NPI, including those exported from Indonesia.
On the other hand, nickel plays a vital role in battery manufacturing, particularly for electric vehicles (EVs). Nickel use in batteries began to rise in the 1980s and is now focused on limonite-derived products such as Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) for EV battery applications.
Nickel demand from the battery sector has surged, accounting for 17% of global nickel consumption in 2023—up from just 3% in 2020. Meanwhile, demand from the stainless steel sector declined from 71% to 64% over the same period. The main driver is the boom in global EV sales, which reached 17.1 million units in 2024—a 25% increase from the previous year, with the fastest growth seen in China.
However, the industry is not without its challenges. The United States and the European Union imposed steep import tariffs on EVs and batteries from China—up to 100% and 45%, respectively—raising the risk of trade wars and further disrupting supply chains.
Technological competition is also intensifying between nickel-based batteries (NMC) and lithium iron phosphate (LFP) batteries. Each has distinct advantages in terms of cost, energy density, lifecycle, and safety. The rising popularity of LFP batteries could significantly shift the global demand landscape for nickel.
On the supply side, Indonesia’s nickel output has risen sharply due to rapid smelter expansion and the issuance of new mining permits (IUP). In 2024, Indonesia recorded the highest production in the world, totaling 2.2 million tons. However, this surge has led to an oversupply and subsequent decline in global nickel prices.
According to the World Bank’s Commodity Markets Outlook (October 2024), the average LME nickel price stood at US$16,814 per ton—down 21.9% from 2023. After peaking at US$19,587 in May, prices steadily declined to US$15,445 by December 2024, marking a 4.1% annual drop.


